Kisah Inspiratif: Si Tukang Batu Tangannya Dicium oleh Rasulullah SAW

24 September 2023, 20:44 WIB
Tukang belah batu /Gambar hasil tangkapan layar Kanal YouTube: Erlangga sport/

HALOYOUTH - Berikut kisah inspiratif ketika situkang batu tangannya dicium oleh Rasulullah SAW.

Menurut riwayat, selama hidupnya Rasulullah SAW hanya pernah mencium dua tangan saja, yaitu putri Beliau, Fatimah Az Zahra dan si tukang batu.

Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja keras guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Bekerja keras memiliki banyak manfaat, selain dapat menjadikan hidup yang sejahtera, tentram, dan nyaman. Selain itu juga kita dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Rasulullah SAW sangat menghargai umatnya yang pekerja keras, meskipun jenis pekerjaan tersebut adalah pekerjaan kasar.

Dikisahkan, setelah Rasulullah SAW pulang dari Perang Tabuk, Beliau dan rombongan berhenti sejenak di salah sudut jalan yang mengarah ke Madinah. Rasulullah SAW tampak menghampiri seorang tukang batu.

Baca Juga: Teks MC Bahasa Sunda untuk Pengajian Mingguan Khidmat dan Berkesan Lengkap dengan Mukadimahnya

Setelah dihampiri, Rasulullah SAW memperhatikan tangan si tukang batu tersebut melepuh, kulitnya legam merah kehitaman karena sinar matahari yang panas.

Lalu Rasulullah bertanya kepada si tukang batu, “Kenapa dengan tanganmu?”

Si tukang batu segera menjawab pertanyaan Rasulullah SAW,

“Wahai Rasulullah, saya bekerja membelah batu setiap harinya. Batu-batu itu kemudian saya jual ke pasar, uangnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya. Karena itulah tangan saya kasar dan melepuh seperti ini.”

Rasulullah seketika meraih tangan kasar si tukang batu tersebut dan menciumnya. Kemudian Beliau bersabda,

“Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya."

Baca Juga: Legenda China Sebut Ganda Putra Indonesia Paling 'Mengerikan', Tapi Kini…..

Hikmah yang dapat kita petik dari kisah di atas adalah, Rasulullah SAW memberikan pelajaran kepada kita selaku umatnya, bahwa jika hamba Allah bekerja keras untuk menghidupi atau menafkahi istri dan anak-anaknya dan tidak mengharapkan hal yang lain selain keridhaan Allah SWT, maka hamba tersebut digolongkan sedang berjihad fisabilillah.

Dari kisah tersebut juga memberikan pelajaran bahwa kita selaku umat Islam harus semangat dan jangan pernah berputus asa menghadapi hidup ini, sesulit apapun itu. Jangan pernah malas untuk bekerja dan menghadapi kenyataan hidup ini dengan jiwa yang lapang disertai dengan ikhtiar dan doa. ***

Editor: Bakri

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Terkini

Terpopuler